Seputar PTK

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ketika kita mengajar, banyak sekali masalah yang kita hadapi. Mungkin diantaranya adalah peralatan yang kurang memadai, atau ada beberapa siswa sering tidak mengerjakan pekerjaan rumah, siswa sulit memahami isi pelajaran, atau mungkin juga ditemui pada kelas tertentu kebanyakan siswanya “senang ribut” ketika pembelajaran sedang berlangsung.

Kita, sebagai guru yang berdedikasi tinggi, tentu tidak akan tinggal diam menghadapi hal-hal seperti itu. Kita lalu biasanya merencanakan sesuatu, kemudian menerapkannya. Setelah itu kita bisa merasakan apakah rencana kita itu bisa berjalan “mulus” sesuai dengan yang diinginkan sebelumnya atau tidak. Jika “tidak”, kita coba instrospeksi mengapa demikian. Barangkali ada sesuatu yang salah, yang perlu diperbaiki, untuk dicoba diterapkan lagi pada kesempatan berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga semakin lama kita mengajar, semakin banyak yang kita perbaiki, semakin baguslah kita mengajar, dan pada akhirnya siswa-siswa kita akan semakin cepat maju.

Cerita tersebut sesungguhnya bukan dongeng, melainkan nyata terjadi dilapangan dan benar-benar dilakukan oleh para guru : melakukan perbaikkan terus menerus. Akan tetapi ketika guru diminta melaporkan apa yang telah dilakukannya dalam bentuk laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), guru-guru sering bingung : apanya yang penelitian?. Padahal upaya yang telah dilakukannya itu sendiri, yaitu melakukan perbaikan pembelajaran secara berulang-ulang, merupakan bagian dari kegiatan PTK.

Jadi, yang “belum” dilakukan oleh guru adalah menata dengan cermat langkah-langkah perbaikkannya itu menjadi lebih sistematis dan menuliskan rincian kegiatan berikut hasilnya secara tertulis dengan pola penulisan yang sistemtatis pula.

Buku ini berisi informasi awal tentang bagaimana merancang dan melaksanakan PTK, dan juga sedikit tentang cara menulis laporannya, yang dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai salah satu pegangan. Untuk memahami PTK yang lebih baik, para guru masih perlu untuk membaca sumber-sumber lain yang lebih lengkap, seperti misalnya rujukan-rujukan yang tercantum dalam daftar pustaka.

B. Kompetensi Dasar

Setelah mempelajari modul ini dengan baik, pembaca diharapkan memiliki kompetensi dasar sebagai berikut.

1. Mampu menjelaskan karakteristik PTK;

2. Mampu menjelaskan langkah-langkah PTK;

3. Mampu menyusun proposal PTK.

4. Mampu mengumpulkan data PTK.

5. Mampu mengolah dan menafsirkan data PTK.

6. Mampu menyusun laporan PTK.

C. Deskripsi Isi Modul

Modul ini disusun dalam empat bagian. Bagian pertama berisii pendahuluan, yang berisi latar belakang, kompetensi dasar, dan deskripsi isi modul. Bagian kedua berisi uraian mengenai kasus-kasus yang ada dilapangan dan hakekat Penelitian Tindakan Kelas. Bagian ketiga berisi rancangan dan pelaksanaan PTK, diantaranya menyangkut latihan mengumpulkan data dan mengolah data. Bagian keempat berisi rangkuman dan evaluasi.


BAB II

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Kasus-Kasus di Lapangan

Berkaitan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), berdasarkan pengalaman di lapangan banyak ditemukan kasus-kasus seperti :

  1. pemahaman guru terhadap PTK kebanyakan masih relatif kurang, terutama di daerah-daerah yang mungkin karena sulit mendapatkan informasi.
  2. guru yang telah mengetahui PTK masih tampak sulit membedakan PTK dengan jenis penelitian lain, sehingga ketika mereka mencoba melaksanakan PTK masih suka menggunakan kelas kontrol sebagai pembanding. Padahal kelas kontol tidak diperlukan dalam PTK.
  3. kemampuan melaporkan secara tertulis hasil penelitian juga masih rendah, terutama tampak bagi mereka yang mau naik pangkat ke IVb dengan adanya tuntutan kewajiban mengembangkan profesi melalui kegiatan ilmiah. Karya tulisnya sering ditolak, sehingga kenaikan pangkatnya tertunda dan mengakibatkan bertumpuknya jumlah guru pada golongan Iva.

Akibat dari kurangnya pemahaman tersebut dapat menimbulkan ketidaksukaan pada penelitian. Penelitian, yang sebenarnya merupakan alat untuk menemukan solusi, malah menjadikan beban yang dirasakan menghambat tugas-tugas pokok guru yaitu mengajar.

B. PTK sebagai Solusi

PTK merupakan salah satu dari sekian jenis penelitian (Wijaya,2004), yang dapat dipandang sangat cocok bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang dilakukannya. Selain masalah yang dibahasnya berupa kejadian aktual yang sedang berlangsung, seperti halnya kejadian mengajar guru yang berlangsung sehari-hari, juga karena langkah-langkah PTK relatif sederhana dan mudah diterapkan. Berikut ini diuraikan mengenai berbagai hal tentang keberadaan PTK.

1. Sejarah PTK

Kurt Lewin, orang Jerman, disebut-sebut sebagai orang pertama yang mengembangkan “action research” (Penelitian Tindakan), pada tahun 1940-an. Ia seorang ahli Psikologi Sosial dan Experimental, serta salah satu penemu Sekolah Gestalt. Ia peduli dengan masalah-masalah sosial, dan memfokuskannya pada proses-proses kelompok partisipatif untuk menangani konflik, krisis, dan perubahan-perubahan yang umumnya ada dalam suatu organisasi.

Selain Lewin, juga ada ahli lainnya yang berkontribusi utama pada bidang penelitian ini, yaitu Eric Trist, seorang ahli psikiatri sosial. Lewin dan Trist menerapkan penelitian mereka pada perubahan sistem organisasi. Mereka menekankan keprofesionalannya dan berkolaborasi dengan klien dan menguatkan peran hubungan kelompok sebagai dasar untuk pemecahan masalah.

Setelah itu, penelitian tindakan ini beberapa dekade dilupakan orang karena dianggap kurang ilmiah, namun pada pertengahan tahun 1970-an, berkembang kembali dan muncul empat aliran utama, yaitu aliran tradisional, contextual (action learning), radical, dan penelitian tindakan itu sendiri. Penelitian yang terakhir berkembang ini khusus dalam dunia pendidikan.

Pada akhir-akhir ini, penelitian tindakan yang berhubungan dengan pendidikan dan bertujuan untuk memperbaiki/meningkatkan cara pengajaran guru di kelas dikenal dengan penelitian tindakan kelas dan mulai berkembang dengan pesat, terutama di negara-negara maju, seperti Amerika, Inggris, dan Australia, serta di Indonesia sendiri mulai diperkenalkan pada tahun 1990-an.

2. Karakteristik PTK
a. Pengertian PTK

PTK merupakan bagian dari Penelitian Tindakan. Istilah PTK ini diajukan oleh beberapa ahli diantaranya oleh Hopkin (1992:1), yaitu tindakan yang diambil guru untuk meningkatkan dirinya atau teman sejawatnya untuk menguji asumsi-asumsi teori pendidikan di dalam praktek, atau mempunyai makna sebagai evaluasi dan implementasi keseluruhan prioritas sekolah.

Prosedur PTK mengadopsi metodologi Penelitian Tindakan yang dikemukakan oleh Lewin (1947), yang menyatakan definisi penelitian tindakan sebagai tiga tahap proses spiral, yaitu (1) perencanaan yang meliputi penelitian pendahuluan (reconnaissance), (2) pengambilan tindakan, dan (3) pengambilan data (fact-finding) tentang hasil tindakan yang dilakukan. Sedangkan Corey (1953) menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan proses yang dilakukan oleh praktisi berusaha untuk mempelajari masalah yang ditemuinya dalam melaksanakan tugas secara ilmiah untuk pembimbingan,memperbaiki, dan mengevaluasi keputusannya dan tindakannya.

Jadi, dari beberapa definisi tadi ternyata bahwa pada dasarnya Penelitian Tindakan Kelas itu adalah tindakan yang dilakukan oleh guru dan sejawatnya di dalam pembelajaran yang bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran yang dilakukan sebelumnya. Selain PTK ini, dalam Penelitian Tindakan dikenal juga beberapa nama, diantaranya penelitian participatory, inkuiri kolaborasi, penelitian emansipatory dan action learning, perbedaannya terletak pada temanya.

Secara sederhana, penelitian tindakan merupakan learning by doing, dimana sekelompok orang mengindentifikasi masalah, melakukan sesuatu kegiatan untuk melakukan pemecahan masalah, mengkaji keberhasilan upaya-upaya mereka, dan jika tidak memuaskan, mereka mencoba melakukan pemecahan masalah kembali.

PTK muncul sebagai reaksi terhadap kekurangpedulian peneliti pendidikan terhadap masalah-masalah nyata yang dialami guru di dalam kelas. Penekanan istilah PTK lebih lanjut dikemukakan oleh Carr dan Kemmis (1996) dengan mengenalkan istilah educational action research, yang selanjutnya dikenal dengan nama classroom action reseach (Penelitian Tindakan Kelas).

Selama ini penelitian-penelitian pendidikan kurang banyak bermanfaat, karena bersifat abstrak, teoritis, dan kurang tampak kenyataannya di sekolah. Dalam penelitian-penelitian pendidikan, guru kurang dilibatkan, sering kali guru dijadikan obyek penelitian, guru yang diteliti tidak pernah mendapat balikan tentang berhasil tidaknya pembelajaran yang ia lakukan.

Pada beberapa literatur, penyebutan nama Penelitian Tindakan Kelas sering juga hanya disebut Penelitian Kelas (PK), tetapi maksudnya itu-itu juga. Sepertinya dalam hal penyebutan PTK atau PK, lebih banyak disebabkan oleh selera si penyebut.

b. Tujuan PTK

PTK bertujuan untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan keprofesian guru, memperbaiki pembelajaran, dan untuk meningkatkan kepekaan kepada guru bagaimana siswanya belajar dalam mata pelajaran yang diajarkannya (Hopkin,1992). Kata perbaikan di sini mengacu dan memiliki konteks proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian tujuan utama dari PTK adalah untuk peningkatan dan atau perbaikan praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru.

Tujuan PTK ini dapat tercapai apabila guru melakukan berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan berbagai persoalan pembelajaran di kelas. Guru akan mendapatkan banyak pengalaman tentang keterampilan praktik pembelajaran, dan bukan bertujuan untuk menemukan ilmu baru.

c. Prinsip-prinsip Pelaksanaan PTK

Ada enam prinsip yang yang harus diperhartikan oleh guru jika ia akan melaksanakan PTK, prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut.

1) PTK yang akan dilakukan guru hendaknya tidak mengganggu tugas utama guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

2) Metode pengumpulan data tidak menyita waktu guru.

3) Metodologi yang digunakan harus reliabel, sehingga memungkinkan guru dapat mengembangkan PBM yang diterapkan di kelas tertentu.

4) Masalah penelitian yang akan diteliti hendaknya dipililh yang aktual yang benar-benar sedang terjadi dan memerlukan pemecahan, serta memiliki kemungkinan untuk dapat dipecahkan oleh guru.

5) Pemecahan masalah sebaiknya mengacu pada kebutuhan guru sebagai peneliti untuk memberikan perhatian pada prosedur-prosedur di lingkungan kerjanya.

6) Jika memungkinkan, PTK dilakukan untuk meningkatkan upaya-upaya pada pencapaian tujuan sekolah ke masa depan.

d. Ciri-Ciri PTK

Ciri-Ciri PTK adalah sebagai berikut.

1) Masalah yang diangkat untuk dipecahkan melalui PTK berasal dari persoalan praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru, konstektual dan spesifik.

2) Tujuan utama PTK lebih contong kepada peningkatan atau perbaikan pembelajaran secara langsung dibanding menghasilkan pengetahuan.

3) PTK berlingkup mikro, dilakukan dalam lingkup kecil, bisa satu kelas atau beberapa kelas di suatu sekolah tertentu, sehingga tidak terlalu menghiraukan kerepresentatifan sampel. Istilah sampel dan pupulasi tidak diperlukan dalam PTK ini, karena hasil PTK tidak untuk digeneralisasikan.

4) Hasil temuan PTK adalah pemahaman mendalam mengenai kehidupan kelas.

5) PTK bersifat praktis dan langsung relevan untuk situasi yang aktual di dalam dunia kerja atau dunia pendidikan.

6) Pada PTK, peneliti sebagai guru tetap melaksanakan tugasnya sehari-hari mengajar di kelas dan sebagai peneliti dapat melakukan perubahan-perubahan atau pemecahan masalah untuk perbaikan atau peningkatan pembelajaran.

7) PTK termasuk jenis penelitian terapan yang melibatkan peneliti secara aktif mulai dari pembuatan rancangan penelitian, rencana tindakan, sampai pada penerapannya dengan modifikasi intervensi yang sesuai dengan perkembangan kelas.

8) PTK bersifat fleksibel dan adaptif, membolehkan mengadakan perubahan-perubahan selama dalam masa penelitian dan mengorbankan kontrol demi kepentingan pelaksanaan on the spot experimentation dan inovasi.

9) PTK dapat dilaksanakan secara kolaboratif, yaitu kerja sama antara teman sejawat, atau kepala sekolah, dan pakar pendidikan, untuk berbagi kepakaran dan atas pemahaman terhadap kelebihan masing-masing. PTK dapat juga dilakukan secara individual (oleh seorang peneliti), dan atau dalam bentuk tim.

10) PTK dilaksanakan dengan langkah-langkah berupa siklus yang sistematis, dengan urutan dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

e. Disain PTK

PTK memiliki disain yang berupa daur spiral dengan tiga langkah utama, yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, dan refleksi, sebagaimana dilukiskan dalam gambar berikut.

Gambar 2.1 Disain Penelitian Kelas

Dari disain yang dilukiskan pada gambar 2.1 di atas tampak bahwa penelitian kelas merupakan proses perbaikkan secara terus menerus dari suatu tindakan yang masih mengandung kelemahan sebagaimana hasil refleksi menuju ke arah yang semakin sempurna. Bentuk alurnya seperti spiral, oleh karena itu sering disebut sebagai disain spiral.

f. Langkah-Langkah PTK

Berdasarkan disain yang dilukiskan pada gambar 2.1, langkah-langkah PTK adalah sebagai berikut.

1). Refleksi Awal

Refleksi awal dilakukan oleh peneliti atau bisa juga berkolaborasi dengan guru lain mencari informasi atau data-data yang lebih lengkap untuk mengenali dan mengetahui suatu kondisi tertentu. Misalnya, siswa di kelas 11 lebih dari setengahnya pasif ketika sedang belajar, lalu dicari kira-kira apa saja penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya.

2). Perencanaan Tindakan

Bila dari refleksi awal telah diketahui penyebab dan garis besar cara mengatasinya, kemudian disusun rencana tindakan yang lebih rinci untuk mengatasi agar siswa tidak pasif tersebut. Sebagai contoh, perencanaan tindakannya sebagai berikut.

a. Penetapan bukti atau indikator untuk mengukur tingkat ketercapaian pemecahan masalah sebagai akibat dilakukannya tindakan. Misalnya, masalah dianggap dapat terpecahkan apabila siswa yang pasif tinggal 2 atau 3 orang dalam 1 kelas.

b. Penetapan tindakan-tindakan yang diharapkan dapat menghasilkan dampak ke arah perbaikkan pembelajaran.

c. Perencanaan metode dan alat untuk mengamati dan merekam/mondokumentasikan semua data tentang pelaksanaan tindakan; dan

d. Perencanaan metode dan teknik pengolahan data sesuai dengan sifat dan kepentingan peneliti.

3). Pelaksanaan Tindakan

Pada tahap ini para pelaksana program melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan langkah-langkah tindakan yang telah direncanakan pada tahap sebelumnya. Dalam waktu yang sama peneliti melakukan pengamatan terhadap jalannya pelaksanaan tindakan itu.

4). Observasi, Refleksi, dan Evaluasi

a) Observasi

Observasi dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya, dan seberapa jauh proses yang terjadi dapat diharapkan menuju sasaran yang diharapkan.

b) Refleksi

Refleksi merupakan kegiatan analisis, sintesis, interpretasi, dan eksplanasi terhadap semua informasi yang diperoleh dari penelitian.

c) Evaluasi

Evaluasi dilakukan dengan menggunakan suatu kriteria, misalnya kriteria efektivitas pengajaran mempunyai indikator penggunaan waktu, biaya, tenaga, dan pencapaian hasil. Evaluasi dapat dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif.

Setelah melakukan observasi, refleksi, dan evaluasi biasanya muncul permasalahan baru atau pemikiran baru, sehingga merasa perlu melakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengamatan ulang, dan refleksi ulang. Demikian langkah-langkah kegiatan terus berulang, sehingga membentuk siklus kedua, ketiga, dan seterusnya.

Bila permasalahan dianggap telah teratasi sesuai tujuan, yaitu dalam hal ini mengurangi jumlah siswa yang pasif dari lebih setengahnya menjadi tinggal 2 atau 3 orang yang masih pasif, maka langkah selanjutnya adalah menuliskan laporan hasil PTK (tentang penulisan laporan, lihat bab 3).

g. Keunggulan PTK

PTK memiliki keunggulan sebagai berikut.

1) praktis dan langsung relevan untuk situasi yang aktual;

2) menyediakan kerangka kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan pengembangan-pengembangan baru yang lebih unggul dari cara-cara yang ada sebelumnya;

3) berdasarkan pada observasi yang nyata dan obyektif, bukan berdasarkan pada pendapat subyektif atas dasar pengalaman masa lampau;

4) fleksibel dan adaptif, yaitu memperbolehkan untuk mengadakan perubahan-perubahan selama dalam masa penelitian dan mengorbankan kontrol demi kepentingan inovasi;

5) dapat digunakan untuk inovasi pembelajaran, mengembangkan kurikulum di tingkat kelas, dan meningkatkan kepakaran atau profesionalisme guru.

h. Kelemahan PTK

PTK memilitki kelemahan sebagai berikut.

1) kurang tertib ilmiah, karena validitas internal dan eksternalnya lemah;

2) tujuan penelitiannya bersifat situasional;

3) sampelnya terbatas sehingga kurang refresentatif dan kontrolnya terhadap variabel bebas sangat sedikit.

Dengan kelemahan-kelemahan tersebut, maka walaupun hasil penelitiannya berguna bagi dimensi praktis dalam situasi tertentu, namun tidak secara langsung memberikan sumbangan kepada dunia ilmu pengetahuan.


BAB III

PERANCANGAN DAN PELAKSANAAN PTK

A. Penyusunan Proposal PTK

Sebelum penelitian dimulai sebaiknya disusun dulu rencana secara tertulis apa-apa saja yang akan dilakukan, mengapa hal tersebut dilakukan, kepada siapa melakukannya, alat dan bahan apa yang diperlukan, berapa biayanya, apa hasilnya yang harus diperoleh, dan sebagainya. Semua itu kita susun menjadi sebuah dokumen yang dapat kita gunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan penelitian. Pedoman seperti itu lajim disebut sebagai proposal penelitian.

Format proposal penelitian bentuknya bermacam-macam, tetapi intinya sama, yaitu sebagai pedoman. Berikut ini disajikan format proposal penelitian yang dapat juga digunakan sebagai proposal PTK.

Proposal PTK umunya berisi hal-hal seperti :

1. Judul Penelitian

2. Latar Belakang

3. Rumusan Masalah

4. Variabel Penelitian

5. Penjelasan Istilah

6. Tujuan Penelitian

7. Hipotesis Tindakan

8. Manfaat Penelitian

9. Ruang Lingkup Penelitian

10. Tinjauan Pustaka

11. Penelitian yang Relevan (Related Studies)

12. Disain Penelitian

13. Populasi dan Sampel Penelitian

14. Tempat Penelitian

15. Teknik Pengumpulan Data

16. Instrumen Penelitian

17. Langkah-Langkah Pengumpulan Data

18. Langkah-Langkah Pengolahan Data

19. Jadwal Penelitian

20. Personalia Tim Peneliti (Jika oleh Tim)

21. Perkiraan Biaya Penelitian (Jika dianggap perlu)

22. Rujukan

23. Lampiran

B. Pelaksanaan PTK

1. Cara pengumpulan data PTK

Untuk keperluan ini kita akan mengingat rumusan tujuan dan masalah yang sudah ada (kita tidak akan lagi menyusun proposal penelitian. Proposal dianggap sudah ada dan siap untuk dilakukan penelitian). Ambil contoh, umpamanya dalam proposal kita itu judul penelitiannya

Penggunaan Media OHP untuk meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa dalam pembelajaran Listrik Statis.

Masalah yang akan ditelitinya :

1. Bagaimana meningkatkan keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran ?

2. Bagaimana meningkatkan pemahaman siswa akan isi pelajaran.

Berdasarkan masalah di atas, maka data yang perlu dikumpulkan dalam setiap siklus PTK adalah

a. Keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran

Ukurannya apa ?

Bisa saja salah satu atau lebih kita tetapkan di antara beberapa hal berikut. Instrumen pengumpul datanya dapat menggunakan daftar cek.

§ Banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan.

§ Banyaknya siswa yang menjawab pertanyaan.

§ Banyaknya siswa yang menoleh kanan kiri atau melamun.

§ Banyaknya siswa yang memperhatikan guru atau apa yang sedang dipelajari.

§ Banyaknya siswa yang melakukan sesuau dalam praktek, menulis di papan tulis, atau menulis hasil pengamatannya di buku.

§ Banyaknya siswa yang mengangkat tangan ketika guru memintanya untuk menjawab suatu pertanyaan.

§ Banyaknya siswa yang merasa lebih senang atau lebih tertarik belajar dengan cara seperti itu.

§ Atau data lainnya yang berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung.

b. Pemahaman siswa

Apa ukurannya ?

Bisa saja satu atau lebih kita tetapkan di antara beberapa hal berikut.

§ Banyaknya siswa yang mampu menjawab benar pertanyaan guru.

§ Banyaknya siswa yang mampu melakukan dengan benar pengukuran/pengamatan dalam sebuah percobaan.

§ Banyaknya siswa yang mampu melaporkan hasil pengamatan.

§ Banyaknya siswa yang mampu menjelaskan apa yang telah dipelajarinya.

§ Banyaknya siswa yang merasa lebih mudah mengerti dengan belajar seperti itu.

§ Banyaknya siswa yang mampu memperoleh nilai bagus.

§ Atau data lainnya yang berhubungan dengan pemahaman siswa selama dan sesudah pembelajaran berlangsung.

Dari gambaran data yang akan kita kumpulkan itu kemudian kita berpikir kira-kira dengan cara apa kita akan mengumpulkannya, mungkin ada yang melalui observasi, wawancara, angket, atau tes.

Untuk pengumpulan data melalui observasi, kita melakukannya selama pembelajaran berlangsung. Tentu saja tidak mungkin kita dapat mengamati seluruh siswa dalam saat yang sama dan seluruh instrumen yang ada kita isi pada saat itu juga. Oleh karena itu, dalam obervasi bisa saja kita

a) meminta bantuan orang lain untuk mengamati dan mengisi instrumen.

b) menggunakan alat perekam, sehingga proses pembelajaran bisa diputar ulang untuk mengamati dan mengisi setiap instrumen.

c) menggunakan apa yang disebut dengan “fokus pengamatan”, yaitu dari sejumlah siswa yang ada kita ambil beberapa orang, misalnya 6 orang, yang kita amati, sebagai wakil dari keseluruhan siswa.

Untuk pengumpulan data melalui wawancara, angket, atau tes, tidak serumit seperti halnya dalam observasi. Wawancara dapat dilakukan setelah pembelajaran selesai pada beberapa siswa, misalnya 1 orang dari siswa pandai, 2 orang dari siswa sedang, dan 1 orang dari siswa yang lemah. Topik dalam wawancara diarahkan pada data yang sedang dikumpulkan, dalam contoh ini mengenai keaktifan dan pemahaman. Untuk angket dan tes bisa dilakukan pada seluruh siswa yang mengikuti pelajaran.

2. Beberapa Instrumen Pengumpulan Data PTK

a. Instrumen

Instrumen pengumpulan data PTK yang bisa digunakan diantaranya adalah

§ STOS

§ Daftar Chek

§ Catatan Lapangan

§ Pedoman wawancara

§ Angket

§ Butir soal tes

§ Skala sikap

b. Skala Sikap :

§ Likert

§ Thurstone

§ Diferensial Semantik

§ Guttman

Mengenai skala sikap ini dapat dipelajari lebih lanjut bentuknya dalam literatur yang disajikan dalam Daftar Pustaka (Wijaya, 2004).

c. Contoh salah satu bentuk Daftar Chek

DAFTAR CEK

……………………………………*)

*) biasanya diisi sesuai fungsi daftar cek tersebut untuk apa, misalnya untuk mencatat siswa yang menjawab pertanyaan, berarti di tempat itu di isi “Siswa yang Menjawab Pertanyaan”.

Cara pengisiannya, ketika pembelajaran sedang berlangsung, ada partisipan (atau guru lain yang dimintai tolong) mengisi daftar cek tersebut dengan memberi tanda cek (Ö) pada kode tampat duduk siswa yang menjawab pertanyaan.

Bila siswa yang sama bertanya kembali, maka diberi lagi tanda cek di tempat itu. Setelah pembelajaran selesai, kemudian dihitung kode siswa no.26 misalnya berapa kali menjawab pertanyaan, lalu yang lainnya juga begitu, dan seterusnya. Dari situ tampak siapa yang aktif dan siapa yang tidak, juga penyebarannya.

Daftar cek tersebut juga dapat digunakan untuk kepentingan lainnya, seperti mencatat siswa yang bertanya, siswa yang mengajukan pendapat, siswa yang ditunjuk guru, dan lain-lain.

d. Contoh Catatan Lapangan

CATATAN LAPANGAN

(DESKRIPSI KEGIATAN PEMBELAJARAN)

Mata pelajaran : …………………………

Guru : ………………

Pukul : 08.30

Guru mengucapkan salam, kemudian mengabsen siswa dan siswa hadir semua. Guru berkata : “ Kita akan membahas tentang membaca grafik”.

Guru memperlihatkan sebuah bagan tentang cara menggunakan telepon koin melalui OHP, lalu meminta siswa untuk memperhatikan bagan tersebut dan menunggu beberapa saat ( 15 detik).

Guru bertanya : “ Ada berapa langkah yang harus dilakukan untuk menggunakan telepon koin menurut bagan ini ?”. (5 detik kemudian).

Siswa menjawab serempak : “ 6 langkah”.

Guru mengajukan pertanyaan kembali,

Guru bertanya : “ Dengan memperhatikan bagan, coba sebutkan langkah-langkah tersebut menurut urutannya yang sesuai !”. (10 detik kemudian)

Budiman (no.10) menjawab : “ Angkat gagang telepon, dengarkan nada sambung, tekan nomor yang dituju, berbicaralah jika telah ada jawaban, simpanlah gagang telepon jika sudah selesai bicara”.

Ternyata jawaban siswa no 10 masih ada yang tidak lengkap, kemudian guru meminta siswa lain untuk melengkapi jawaban siswa no 10. (5 detik)

Siti (no.09) menjawab : “ Memasukkan koin”.

Selanjutnya guru meminta siswa untuk memperhatikan bagan lain tentang cara menggunakan koin, kemudian mengajukan pertanyaan.

Guru bertanya : “ Apakah perbedaan antara bagan 1 dan bagan 2 ?”.

( 5 detik) Nurhayati (no. 24) menjawab : “ Masukkan koin berikutnya jika terdengar nada habis waktu”. Guru mengajukan pertanyaan lanjutan, “ Ada berapa kemungkinan langkah yang terjadi pada bagan 2 ?”. (5 detik)

dan seterusnya ………………….

I. Contoh PEDOMAN WAWANCARA

Contoh pertanyaan yang mungkin diajukan pada yang diwawancara :

  1. Menurutmu apakah pelajaran tadi cukup menyenangkan ?
  2. Bagaimana teman-teman yang lainnya, apakah dapat mengikuti pelajaran dengan baik ?
  3. Apakah menurutmu pelajaran tadi lebih mudah dipahami ?
  4. ……….

Respon :

  1. ………….
  2. ………….
  3. ……………

e. Pedoman wawancara

g. Contoh pengolahan data catatan lapangan

Sebagai contoh pengolahan data PTK, data yang diolah misalnya diambil dari catatan lapangan lapangan yang ada di atas. Misalnya khusus tentang kategori pertanyaan guru, respon verbal siswa, dan kategori respon siswa (Catatan lapangan tersebut sesungguhnya bisa juga untuk data lain yang diperlukan).

Dari catatan lapangan tadi kemudian dicatat dalam bentuk tabel seperti di bawah ini.

RESPON VERBAL SISWA

Keterangan :

RT : Relevan Tepat ; RKT : Relevan Kurang Tepat ;

PPB : Pembentukan Pengetahuan Baru

Diam : Tidak ada jawaban dari siswa

“X” : Jawaban siswa serempak

No

Pertanyaan

Kategi

Pert.

Kode

Sis.yg mnjwb

Respon Verbal Siswa

Kategori Respon Siswa

1

Ada berapa langkah yang harus dilakukan untuk menggunakan telepon koin menurut bagan ?

Mengetahui (C1)

X

Enam langkah

RT

2

Dengan memperhatikan bagan tersebut, coba sebutkan langkah-langkah tersebut menurut urutan yang sesuai !

Memahami (C2)

10

Angkat gagang telepon, dengarkan nada sambung, tekan nomor yang dituju, bicaralah jika telah ada jawaban, simpan gagang telepon jika selesai berbicara.

RKT

3

Ada berapa langkah yang harus dilakukan untuk menggunakan telepon koin menurut bagan ?

Mengetahui (C1)

X

Diam

Diam

4

Langkah mana yang tidak disebutkan ?

Mengetahui (C1)

29

Memasukkan koin.

RT

5

Apakah perbedaan antara bagan 1 dan bagan 2 ?

Menganalisis (C3)

24

Masukkan koin berikutnya jika terdengar nada habis waktu.

RT

6

Ada berapa kemungkinan langkah yang terjadi pada bagan 2 ?

Memahami (C2)

X

Satu

RKT

9

Tunjukkan langkah-langkah yang dikerjakan jika yang dimasukkan angka 7 dan hanya akan sekali coba!

Memahami (C2)

34

Mulai, memasukkan sebuah angka, bilangan tersebut habis dibagi 2, bilangan tersebut genap, bilangan tersebut ganjil, selesai.

RKT

Bila tabel telah semua diisi dengan data-data yang diperoleh dari catatan lapangan, selanjutnya kita dapat menghitung apa saja yang mau kita hitung, misalnya ada berapa kategori pertanyaan guru yang kategorinya C1, C2, atau C3 (dari taksonomi Bloom), kode siswa mana saja yang merespon, dan termasuk kategori apa saja respon siswa tersebut berikut jumlahnya tiap kategori.

3. Cara Pengolahan Data PTK.

Pengolahan data diarahkan pada permasalahan apa yang akan dicari solusinya. Dalam PTK, data yang berupa angka biasanya tidak diolah dengan statistik yang rumit, cukup dengan prosentase atau rata-rata saja. Tetapi yang lebih penting adalah apa kekurangan dan kelebihan dari model yang kita cobakan dan bagaimana cara memperbaiki kekurangan tersebut untuk kemudian dicobakan lagi pada pembelajaran berikutnya.

Misalnya dari daftar cek kita memperoleh data :

pada siklus I (pembelajaran I),

siswa yang ngobrol dan menoleh kanan-kiri : 60%

pada siklus II (pembelajaran II),

siswa yang ngobrol dan menoleh kanan-kiri : 50%

pada siklus III (pembelajaran III),

siswa yang ngobrol dan menoleh kanan-kiri : 40%

Data ini menunjukkan bahwa siswa yang ngobrol dan menoleh kanan-kiri semakin berkurang, yang tadinya 60%, 50%, lalu menjadi 40%. Artinya siswa yang aktif semakin banyak, sehingga dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa secara klasikal selama pembelajaran meningkat.

C. Penyusunan Laporan PTK

Format laporan PTK yang sering ditemui banyak ragamnya, tetapi umumnya memuat hal-hal berikut.

Halaman Judul

Abstrak

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Teori

B. Penelitian yang Relevan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Disain Penelitian

B. Subyek Penelitian

C. Prosedur Penelitian

1. Metode Penelitian

2. Teknik Pengumpulan Data

3. Instrumen Penelitian

4. Langkah-Langkah Penelitian

5. Jadwal Penelitian

D. Prosedur Pengolahan Data

1. Langkah-Langkah Pengolahan Data

2. Teknik Analisis Data

BAB IV TEMUAN-TEMUAN DAN PEMBAHASAN

A. Temuan-Temuan

1. Pada Siklus 1

2. Pada Siklus 2

3. Pada Siklus 3 … dan seterusnya …

B. Pembahasan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

B. Saran-Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Bentuk laporan penelitian dalam jurnal penelitian atau majalah pendidikan, biasanya lain lagi, tergantung pada selera redaksi. Namun demikian tetap unsur-unsur penting PTK termuat. Formatnya bisa berbetuk sebagai berikut.

Contoh Format laporan yang biasa dalam jurnal Penelitian :

Pendahuluan

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Kajian Teori

Hasil Penelitian yang Relevan

Metode Penelitian

Setting Penelitian

Cara Pengumpulandan dan Pengolahan Data

Prosedur Penelitian

Persiapan

Pelaksanaan

Hasil Penelitian

Hasil Observasi Awal

Siklus 1

Perencanaan Tindakan 1

Pelaksanaan Tindakan 1

Pengamatan Tindakan 1

Refleksi dari Tindakan 1

Siklus 2

Perencanaan Tindakan 2

Pelaksanaan Tindakan 2

Pengamatan Tindakan 2

Refleksi dari Tindakan 2

Siklus 3

Perencanaan Tindakan 3

Pelaksanaan Tindakan 3

Pengamatan Tindakan 3

Refleksi dari Tindakan 3

Pembahasan

Kesimpulan

Keterbatasan Penelitian

Saran-Saran

Daftar Pustaka

Sebaiknya dalam buku ini disajikan juga secara lengkap contoh laporan hasil PTK. Akan tetapi mengingat tempatnya terbatas, contoh yang lengkap tidak bisa disajikan. Bagi guru yang berminat dengan contoh sajian laporan PTK, disarankan untuk mencarinya sendiri dalam majalah pendidikan yang dikeluarkan oleh Depdiknas atau oleh pihak lainnya yang di dalamnya ada laporan PTK.

Untuk sekedar gambaran kasar dari laporan PTK, berikut disajikan rangkumannya dalam bentuk bagan. Dari bagan ini tergambar bagaimana PTK itu dilakukan, langkah-langkahnya apa saja, dan hasilnya bagaimana.

Gambar 3.1 Rangkuman hasil PTK

E. PTK bagi Pemula

Bagi pemula, yang namanya penelitian itu adalah sesuatu yang sulit dilakukan, dan hanya dapat dilakukan oleh para ahli. Kadang-kadang berdasarkan pengalaman dalam penataran, beberapa guru mengeluh, walaupun dia telah berusaha membaca literatur tentang bagaimana meneliti, pola-polanya tetap sulit diterapkan di kelas. Akhirnya ia kempali kepada pemahaman semula : penelitian sulit dilakukan.

Akan tetapi tentu saja bukan berarti bahwa penelitian itu sama sekali tidak dapat dilakukan oleh guru yang belum pernah melakukannya. Kita perlu mencoba mulai dari cara-cara sederhana yang bisa kita lakukan, bukan dari teori. Permasalahan yang akan kita coba pecahkanpun tidak perlu yang muluk-muluk dulu.

Kita mulai dari contoh rangkuman yang ditampilkan dalam gambar 3.1 di atas. Kita buat kembali bagan tersebut di kertas kosong, seperti gambar 3.2 berikut.

Gambar 3.2 Bagan untuk latihan PTK

Untuk sementara kita tidak perlu menyusun laporan sebagaimana format laporan PTK yang disebutkan di atas yang dibagi kedalam beberapa bab. Sebagai latihan, cukup sampai kepada melengkapi titik-titik yang ada dalam bagan tadi. Namun demikian, untuk melatih kebiasaan dengan pola-pola PTK, kita perlu mencobanya beberapa kali untuk beberapa masalah. Hilangkan perasaan takut menyalahi prosedur ilmiah yang baku, atau perasaan takut hasilnya tidak diakui pihak lain.

Bila kita telah beberapa kali mencoba, maka pola-pola PTK yang kita lakukan akan menjadi suatu kebiasaan, sehingga kita tidak akan lagi merasa sulit melakukannya. Selanjutnya, kita coba tuliskan secara narasi dari bagan tadi menjadi sebuah cerita atau sekaligus dibuat laporannya menggunakan format laporan seperti dalam jurnal (lihat format laporan dalam jurnal di atas).


BAB IV

PENUTUP

A. Rangkuman

1. Penelitian tindakan dalam konteks pendidikan dan pengajaran dikenal dengan nama Penelitian Tindakan Kelas, yaitu suatu kegiatan/ upaya di dalam kelas dari berbagai pihak terkait, khususnya guru sebagai pengajar untuk meningkatkan atau memperbaiki proses belajar mengajar ke arah tercapainya kualitas pengajaran itu sendiri. Masalah penelitiannya bersifat spesifik dan bersumber dari lingkungan kelas yang dirasakan sendiri oleh guru untuk diperbaiki, dievaluasi, dan akhirnya dibuat suatu keputusan dan dilaksanakan suatu tindakan untuk memperbaiki masalah dalam pembelajaran tersebut.

2. Penelitian tindakan kelas mempunyai beberapa karakteristik, yaitu dii antaranya: permasalahan yang akan dicari solusinya berasal dari persoalan pembelajaran sehari-hari di kelas, berskala mikro, hasil temuan tidak untuk digeneralisasikan, bersifat konstektual, merupakan penelitian terapan dengan tindakan, penelitinya berfungsi ganda, merupakan penelitian kolaboratif, dan langkah penelitian berupa siklus yang sistematis.

3. Tujuan utama dari penelitian tindakan kelas adalah untuk peningkatan dan atau perbaikan praktik pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru.

4. Manfaat dari penelitian tindakan kelas, guru dapat terlibat secara tidak l langsung dalam inovasi pembelajaran dan peningkatan profesionalismenya.

5. Ada empat langkah/tahapan dalam melakukan penelitian tindakan kelas, yaitu Perencanaan (yang diawali dengan refleksi awal), Tindakan, Pengamatan, dan observasi-refleksi-evaluasi. Apabila muncul permasalahan baru, maka dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, pengmatan ulang, dan refleksi ulang, sehingga penelitian membentuk siklus.

6. Penelitian Kelas memiliki keunggulan sebagai berikut : praktis dan langsung relevan untuk situasi yang aktual; kerangka kerjanya teratur; berdasarkan pada observasi yang nyata dan obyektif, fleksibel dan adaptif; dapat digunakan untuk inovasi pembelajaran; dapat digunakan untuk mengembangkan kurikulum di tingkat kelas; dan dapat digunakan untuk meningkatkan kepakaran atau profesionalisme guru.

7. Penelitian Kelas memilitki kelemahan sebagai berikut : kurang tertib ilmiah, karena validitas internal dan eksternalnya lemah; tujuan penelitiannya bersifat situasional; sampelnya terbatas sehingga kurang refresentatif dan kontrolnya terhadap variabel bebas sangat sedikit. Dengan kelemahan-kelemahan tersebut, maka walaupun hasil penelitiannya berguna bagi dimensi praktis dalam situasi tertentu, namun tidak secara langsung memberikan sumbangan kepada dunia ilmu pengetahuan.

B. Evaluasi

1. Identifikasilah masalah yang Anda alami sendiri yang cocok untuk diteliti dengan PTK, lalu susunlah rencana penelitian (proposal) sehingga tergambar dengan jelas bagaimana seharusnya penelitian itu dilaksanakan, lengkapi juga dengan instrumen pengumpul data yang diperlukan. (bobot nilai 60).

2. Pahamilah rangkuman penelitian pada gambar 3.2 di atas, lalu buatlah laporan penelitian menggunakan format laporan dalam jurnal. (bobot nilai 40).


DAFTAR PUSTAKA

Bickel, William E. & Hattrup, R.A. (1995). “Teachers and Researchers in Collaboration : Reflections on The Process”. American Educational Research Journal. 32,(1),pp.35-62

Coe. (2001). How is Action Research Defined?, Florida : Atlantic University, http://www.fau.edu/divdept/coe/sfcel/define.htm

Depdiknas. (2002). Pelangi Pendidikan, Buletin Peningkatan Mutu Pendidikan SLTP. Majalah. Jakarta : Depdiknas.

Elliot, J. (1992). Action Research for Educational Change. Buckingham: Open University Press.

Gabel, D. (1995). An Introduction to Action Reserch, San Francisco, hhtp://www.phy.nau.edu/~danmac/actionrsch.html

Guerrero, JL. (1995). Research paradigm Shift: Participatory Action Research. <!–[if supportFields]> "http://interwork.sdsu.edu/projects/rrtcp/pubs/par.html&quot; <![endif]–>http://interwork.sdsu.edu/projects/rrtcp/pubs/par.html<!–[if supportFields]><![endif]–>http://interwork.sdsu.edu/projects/rrtcp/pubs/par.html.

Hopkin S, David. (1992). A Teacher’s Guide to Classroom Research (2nd Ed.), Buckingham: Open University Press.

Indrawati & Wijaya, M. (2001). Penelitian Tindkaan Kelas. Bandung : PPPG IPA.

Mc Niff, Jean. (1982). Action Research : Principal and Practice, London : Mc Millan Education Ltd.

Miles, Mathew B. (1979). Qualitative Data as an Attractive Nuisance : The Problem of Analysis. New York : Oxford University Press.

Moehallabib M., et.al. (1997). Dasar-dasar Metodologi Penelitian (Edisi Pertama, Cetakan ke-2), Malang : Lembaga Penelitian IKIP Malang.

O’brien, Rory. (1988). An Overview of the Methodological Approach of Action Research, http://www.web.net/~robrien/paper/arfinal.html

Riding, P., Fowel, S., & Levy, P. (2001). An Action Research Approach To Curriculum Development. http://informationr.net/ir/1-1/paper2.html.

Siregar, Nelson. (1999). Penelitian Kelas : Dasar Epistemologi dan Substantif ((Malakah), Bandung : IKIP Bandung.

Subekti, Ruchji. (1997). Profil Kemampuan Dasar Guru Ditinjau dari Keputusan dan Tindakan Pembelajaran oleh Guru dalam Konteks Kegiatan Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi Pengajaran. Disetasi Doktor PPS IKP Bandung, Bandung : tidak diterbitkan.

Suyanto. (1997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Kelas (Bagian ke-1 : Pengenalan PPK), Yogyakarta : Depdikbud – Proyek Pendidikan Tenaga Akademik – BP3GSD.

Wijaya, Maman. (2004). Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan. Bandung : PPPG IPA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: